Kamis, 20 Januari 2011

KLASIFIKASI BAHAN PUSTAKA

Oleh Listariono

                                                                                                  
I. Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan lepas dari kegiatan mengklasifikasi (mengelompokkan) walau dalam bentuk yang paling sederhana. Dalam sebuah toko buah misalnya akan kita lihat kelompok buah apel ditempatkan terpisah dengan kelompok buah salak, demikian juga dengan buah-buah yang lain dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Hal ini dimaksudkan agar pembeli bisa dengan mudah mengambilnya. Demikian pula bila kita masuk ke dalam toko buku, disana buku-buku telah ditata berdasarkan kelompok ilmunya. Ada kelompok ilmu sosial, kelompok ilmu matematika, kelompok buku pelajaran untuk SD, SMP, SMA dan setrusnya.

Klasifikasi (pengelompokan) ini diterapkan juga dalam suatu perpustakaan.     Koleksi perpustakaan akan tampak rapi dan pemakai akan lebih cepat dan mudah mendapatkan buku yang dinginkan. Pengelompokan bisa saja berdasarkan pada bentuk, tinggi buku atau berdasarkan ciri yang lain, akan tetapi untuk perpustakaan pada umumnya pengelompokan bahan pustaka menggunakan sistem pengelompokan berdasarkan subyek atau pokok bahasannya. Dalam makalah ini penulis hanya menyajikan secara singkat tentang bagaimana mengklasir bahan pustaka dengan menggunakan sistem klasifikasi Dewey.
   
II. Klasifikasi

     A. Pengertian

          Pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang tertuang dalam bentuk bahan pustaka baik buku maupun non buku, merupakan tanggung jawab perpustakaan untuk mengatur dan mengelolanya . Perpustakaan bertugas untuk mengelola informasi sehingga sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Kegiatan mengelola/mengatur/mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan aturan tertentu disebut klasifikasi.

Klasifikasi berasal dari kata kelas. Adalah sekumpulan benda yang dipersatukan bersama karena karakteristik atau ciri yang dimiliki oleh benda tersebut.   

Suatu bahan pustaka dapat memiliki beberapa cirri misalnya, kepengarangan, bentuk fisik, ukuran warna dll. Dalam hal demikian bahan pustaka dapat dikelompokkan pada setiap cirri tersebut. Pada perpustakaan modern pengklasifikasian bahan pustaka didasarkan pada subyek dari bahan pustaka. Sebab pemakai informasi lebih banyak mencari bahan pustaka melalui subyeknya.


    B.  Tujuan

          Tujuan klasifikasi adalah pengumpulan benda-benda yang sama atau hampir sama dan dalam waktu yang sama pula dapat dipakai untuk memisahkan benda-benda yang berbeda. Dengan kata lain tujuan klasifikasi adalah untuk memudahkan pencarian suatu bahan pustaka pada tempat penyimpanan.


   C.  Sistem Klasifikasi

         Ada beberapa macam sistem klasifikasi  koleksi perpustakaan, antara lain:

1.    Klasifikasi Artificial, yaitu sistem pengelompokkan koleksi berdasarkan ciri-ciri khusus misalnya,  ukuran, warna dan data fisik lainnya.

2.    Klasifikasi Fundamental, yaitu sistem pengelompokkan koleksi berdasarkan subyek. Dalam perkembangannya, sistem klasifikasi subyek ini yang lebih banyak digunakan oleh pustakawan menangani  pekerjaan di perpustakan.



   D    Klasifikasi Persepuluhan Dewey (Dewey Decimal Classification/DDC)

          Klasifikasi persepuluhan Dewey mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan yang dibuat dalam suatu susunan yang sistematis dan teratur. Pembagian ilmu pengetahuan dimulai dari koleksi utama yang masing-masing dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, menjadi suatu urutan yang logis dan biasanya dimulai  dari yang bersifat umum kepada yang bersifat khusus.  Dengan demikian, klasifikasi DDC itu terdiri atas kelas utama, divisi, seksi, sub seksi dan unsure-unsur pokok yang dapat dirinci sebagai berikut :


         Unsur-unsur Pokok dalam DDC

         Sebagai sistem klasifikasi, DDC memiliki unsur-unsur pokok antara lain:



            1   Sistematika

       DDC menggunakan sistematika berupa bagan yang berisi ilmu   pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu

            2.  Notasi

       Notasi merupakan lambang atau simbol  berupa angka yang mewakili subyek tertentu. Setiap angka mempunyai arti dan maksud tertentu. Angka-angka itu disebut nomor klasifikasi yang menunjukkan struktur ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Notasi yang baik adalah notasi yang singkat, sederhana, dan mudah dikembangkan pada masa-masa mendatang sesuai dengan perkembang-an ilmu pengetahuan.

       Contoh notasi yang menunjukkan struktur ilmu pengetahuan    adalah:

       Ilmu-ilmu Sosial

       370      Pendidikan

371     Hal-hal umum tentang pendidikan

                 372      Pendidikan dasar

                 372.2   Sekolah dasar

                 Bahasa

410      Bahasa Indonesia

                  411      Fonologi bahasa Indonesia & sistem tulisan Fonologi bahasa        Indonesia

                  411.52  Ejaan dan ucapan


             3  Indeks Relatif

     Indeks relatif menunjuk pada sejumlah tajuk yang disertai rincian aspek-aspeknya dan disusun alfabetis serta memberikan petunjuk yang biasanya berupa nomor kelas.

     Contoh:

     Hewan

     Anatomi     591.4

      Cerita tentang       800

      Kedokteran           636.089

      Menggambar         743.6

      Pertunjukan           791.8


       Meskipun sistem klasifikasi itu dilengkapi dengan indeks relatif, pengklasifikasian tidak boleh langsung memberikan nomor/notasi pada suatu koleksi dengan angka yang diperoleh melalui indeks relatif. Untuk menentukan nomor klaifikasi suatu koleksi dengan nomor tertentu, pengklasifikasi harus mengecek lebih dahulu pada bagan klasifikasi. Indeks itu dikatakan relatif karena mencatat aspek-aspek yang tersebar dalam berbagai bagan/nomor, lalu dikumpulkan menjadi satu dalam jajaran abjad. Disamping itu, dalam sistem DDC ada indeks spesifik, yakni indeks yang menunjukkan satu aspek atau satu tempat saja.

             4   Tabel Pembantu

        Tabel pembantu berupa notasi khusus yang digunakan untuk menyatakan aspek tertentu. Tabel-tabel pembantu itu terdiri dari:

1.    Tabel Subdivisi Standar

2.    Tabel Wilayah

3.    Tabel Subdivisi Kesusasteraan

4.    Tabel Subdivisi Bahasa

5.    Tabel Bahasa-bahasa

6.    Tabel Subdivisi Ras, Etnik dan Kebangsaan

7.    Tabel Kelompok Orang


      Tabel Subdivisi Standar

            Tabel subdivisi standar  (SS) dapat digunakan apabila diikuti dengan angka dari bagan klasifikasi. Dengan kata lain bahwa subdivisi standar tidak dapat berdiri sendiri akan tetapi akan melekat pada notasi utama sedang tabel subdivisi sebagai bentuk penyajian. Susunannya sebagai berkut:



            - 01      Filsafat dan teori

            - 02      Bunga rampai

            - 03      Kamus, ensiklopedi, konkordan

            - 04      Umum, Khusus

            - 05      Publikasi serial

            - 06      Organisasi dan manajemen

            - 07      Studi dan pengajaran

            - 08      Kumpulan koleksi

            - 09      Sejarah dan geografi



                        Contoh: Kamus Akuntansi

                        Notasi untuk Akuntansi (base number)          - 657

                        Kamus (SS)                                         - 03

Kamus Akuntansi: 657.03

          

                        Tabel Wilayah

             - 1       Wilayah, daerah, tempat pada umumnya

             - 2       Manusia (tanpa disebutkan wilayah)

             - 3       Dunia purba

             - 4       Eropa

             - 5       Asia

             - 6       Afrika

             - 7       Amerika Utara

             - 8       Amerika Selatan

             - 9       Bagian lain

                        Asia

51                Cina

52                Jepang

53                Arab

54                Asia selatan

55                Iran

56                Timur Tengah

57                Siberia

58                Asia Tengah

59                Asia Tenggara
            Asia Tenggara

591            Birma

592            –

593            Thailand

594            Laos

595            Malaysia

596            Kamboja

597            Vietnam

598            Indonesia
            Indonesia

                              Sumatera                 598.1                     

                              Jawa dan Madura    598.2

                              Jakarta                     598.3

                              Kalimantan              598.4

                              NTB, Bali, NTT      598.5

                              Sulawesi                  598.6

                              Maluku                    598.7

                              Irian Jaya                 598.8

            Catatan: apabila ada subyek mengandung unsur wilayah, rumusnya adalah sebagai berikut: Base Number (BS) + 09 (Standar Subdivisi/SS) + Wilayah

            Contoh:

            1. Perkembangan Ilmu militer di Jepang

            Ilmu militer             355

            (SS)             - 09

            W (Jepang)  - 52

            Cara penulisan         355.095 2

            2. Situasi politik Iran saat ini sangat kondusif

           Politik                                  320

           (SS)              - 09

          W (Iran)                    - 55

           Cara penulisan                     320.955


                        Tabel Subdivisi Kesusasteraan

            Didalam klas 800 (sastra) dikenal bentuk penyajian khusus yang  disebut   Subdivisi Standar Untuk Sastra, yaitu:

            - 1        Puisi

            - 2        Drama

            - 3        Fiksi

            - 4        Essai

            - 5        Pidato

            - 6        Surat-surat

            - 7        Surat-surat

            - 8        Aneka Karya



           Contoh:

           Sastra Belanda

           Sastra Belanda             839.31

           Fiksi                             - 3

           Fiksi Belanda               839.313



                        Tabel Subdivisi Bahasa

                        Notasi berikut ini tidak digunakan secara tersendiri, tetapi digunakan bersama dengan angka dasar (Base Number)  untuk masing-masing bahasa, seperti yang terdapat dibawah notasi 410-490. Notasinya adalah sbb:

                        -01 – 09           Subdivisi standar

                        -1   -  -6           Bentuk standar bahasa

                        Misalnya, dalam tabel notasi  -15 adalah fonologi, sedangkan notasi dasar bahasa Indonesia adalah 499.221 Jadi, notasi untuk fonologi bahasa Indonesia 499.221 5

                
                        Tabel Bahasa-bahasa

      Ada beberapa subyek yang aspek bahasanya merupakan ciri yang membedakan dengan subyek lain yang serupa. Contoh yang paling jelas adalah karya-karya berupa terjemahan dari suatu kitab suci. Misalnya Alkitab dalam bahasa Indonesia atau English edition of the Qoran. Aspek bahasa itu dapat ditunjukkan dengan menambahkan notasi dari Tabel 6 dengan notasi / nomor kelas dari subyek yang bersangkutan.

      Cara menggunakan tabel ini pada umumnya ditunjukkan dengan instruksi Add Language notation 3-9 from table 6 to base number ...



     Tabel Subdivisi Ras, Etnik dan kebangsaan

      Ada kalanya suatu subyek perlu dibagi lebih lanjut menurut aspek ras, kelompok etnis, atau kebangsaan tertentu. Sebagai sontoh subyek Cara Berpakaian di kalangan orang Jawa, akan lebih khusus jika notasi yang dihasilkan juga menunjukkan orang-orang Jawa.

      Biasanya dalam menggunakan tabel ini ada instruksi khusus yang terdapat dalam bagan sebagai berikut:

      Add Racial, Ethnic, National Group. Notation 01-00 from table 5 to base number [Tambahkan kelompok ras, ethnis, kebangsaan. Notasi 01-00 dari tabel 5 pada nomor dasar] ………



      Tabel Kelompok Orang

      Tabel ini dimaksudkan untuk memberi suatu subyek menurut kelompok orang-orang tertentu yang berkaitan dengan subyek tersebut, misalnya kelompok ahli hukum, ahli pendidikan, dan sebagainya.

      Cara menggunakan tabel ini pada umumnya ditunjukkan dengan instruksi Add Persons notation 09-99 from Table 7 to base number ……….

      Penambahan juga dapat dilakukan secara langsung yaitu terlebih dahulu menambahkan notasi –088 dari tabel 1.



              5.   Pembagian Subyek

        Di dalam sistem DDC, subyek-subyek dibagi dari subyek besr (kelas utama) menjadi subyek kecil (divisi), lalu dibagi lagi menjadi lebih kecil (subdivisi), dan lebih rinci lagi (tabel lengkap).

        Misalnya:


        Kelas Utama

        000   Karya umum

100   Filsafat

200   Agama

300   Ilmu Sosial

400   Bahasa

500   Ilmu Pengetahuan murni

600   Ilmu pengetahuan terapan/teknologi

700   Seni, olahraga

800   Sastra

900   Sejarah, Geografi


        Divisi

300   Ilmu sosial

310   Statistik umum

320   Ilmu politik

330   Ilmu ekonomi

340   Ilmu hukum

350   Administrasi negara

360   Layanan social

370   Pendidikan

380   Perdagangan

390      Adat istiadat


       Subdivisi

370   Pendidikan

371   Hal-hal umum tentang pendidikan

372   Pendidikan dasar

373   Pendidikan lanjutan

374   Pendidikan orang dewasa

375   Kurikulum

376   Pendidikan Wanita

377   Sekolah dan agama

378   Pendidikan tinggi

379   Pendidikan dan negara


      Seksi

                  371.1   Pengajaran dan pengajar

371.2   Administrasi pendidikan

371.3   Metode mengajar dan belajar

371.4  Bimbingan dan penyuluhan

371.5  Disiplin sekolah

371.6  Sarana fisik

371.7  Kesehatan dan keselamatan sekolah

371.8  Siswa

371.9  Pendidikan khusus



            Beberapa Ketentuan Dalam DDC

Untuk memperlancar proses klasifikasi dengan menggunakan sistem DDC, perlu dipahami lebih dahulu prinsip-prinsip dasar klasifikasi:

1.       Prinsip Desimal

       Sistem DDC membagi ilmu pengetahuan menjadi 10 kelas utama, masing-masing kelas dibagi lagi menjadi 10 bagian (divisi), tiap-tiap divisi dibagi lagi 10 bagian menjadi seksi. Karena perincian ilmu pengetahuan berdasarkan kelipatan sepuluh, sistem DDC ini disebut dengan klasifikasi persepuluhan Dewey.

            2     Prinsip Umum ke Khusus

            Sistem DDC membagi kelas/kelompok bidang, dari subyek umum menjadi subyek khusus, misalnya:

       Kelas Utama        : 200      - agama

       Divisi pertama: 201- 209 --karya-karya agama secara umum meliputi      filsafat, kamus, organisasi dan sejarah agama pada umumnya

       Divisi kedua         : 210-219 –agama lain

       Divisi ketiga         : 290 – 299 agama-agama lain selain Nasrani

       Dari sepuluh seksi pada setiap divisi, seksi pertama, yakni 0 (nol) selalu disediakan untuk karya umum dalam suatu bidang, sedangkan untuk 1 –9 untuk hal-hal yang bersifat khusus.

       Misalnya:

       Divisi                    : 380    - perdagangan

       Seksi pertama       : 381    - perdagangan dalam negeri

       Seksi kedua          : 382    - perdagangan internasional


    E.   Petunjuk Penggunaan DDC

          Agar lebih cepat, tepat, dan benar dalam menentukan nomor klasifikasi, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

          1. Memahami pola pembagian subyek

          Didalam sistem ini, ilmu pengetahuan di bagi dari subyek besar menjadi subyek yang lebih kecil. Untuk itu perlu perlu dipahami adanya pembagian 10 kelas utama, 100 divisi dan 1000 subdivisi, serta cara penggunaan tabel-tabel pembantu.

         2.  Menentukan Subyek

          Didalam menentukan subyek hendaknya diusahakan mencari nomor yang paling spesifik. Untuk menentukan subyek ini hendaknya dibaca dan dipahami informasi yang diperoleh dari:

a.                           Halaman judul

b.                          Kata pengantar

c.                           Daftar isi

d.                          Pendahuluan (bila ada)

e.                           Dibaca tiap-tiap bab

f.                           Kesimpulan

     3   Apabila dalam suatu buku terdapat dua subyek atau lebih, terlebih dahulu diklasifikasi pada kelas yang utama dibahas.

         4   Apabila tidak ada subyek yang utama, koleksi itu diklasifikasi pada kelas yang paling bermanfaat bagi pengguna perpustakaan atau pada subyek yang disebut lebih dahulu.

         5   Mengklasifikasi menurut subyeknya dahulu, lalu menurut bentuk penyajiannya.



III.   Penutup

         Untuk menunjang kegiatan klasifikasi bahan pustaka, diperlukan petugas perpustakaan (pustakawan) yang memiliki kompetensi dalam bidang klasifikasi bahan pustaka sehingga hasil klasifikasi dapat dipertanggungjawabkan. Penguasaan terhadap analisis subyek dan skema klasisikasi serta ketaat-asasan merupakan tuntutan yang harus dimiliki seorang klasifier. Untuk dapat menunjang kegiatan tersebut, klasifier perlu diperlengkapi dengan buku klasifikasi DDC, alat bantu klasifikasi berupa kamus , ensiklopedi dan tajuk subyek.






DAFTAR PUSTAKA



Zen, Zulfikar. 1989. Buku Kerja Dewey Decimal Classification. Edisi ke-19.   Jakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan. Fakultas Sastra. Universitas Indonesia.

Irene-Adhikesumah,1992. Klasifikasi Bahan Pustaka: buku penunjang perkuliahan.Surabaya: tidak diterbitkan

Homakonda, Towa P. dan J.N.B. Tairas, 1991. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Madyana, Engking dan Royani. 1987. Klasifikasi : Pengantar Teoritis dan Praktis Organisasi Pustaka. Jakarta : P2LPTK. Dirjen Dilti. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Somadikarta, Lily K. 1987. Dasar-dasar Analisis Subyek untuk Pengindeksan Subyek Dokumen (disadur dari A.G. Brown. 1976. An Introduction to Subject Indexing: a programmed text. Vol. 1: sections 1 & 2). Jakarta: FSUI. Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

















Klasifikasi bahan Pustaka



Makalah dipresentasikan pada Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Dalam Rangka Peningkatan Pemanfaatan  Perpustakaan Sekolah Untuk menunjang Kegiatan Belajar Mengajar Bagi Guru Pustakawan Melalui Pelatihan  Pengelolaan Perpustakaan Sekolah

di SDN Tunjung Sekar V Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Tanggal 20, 27 Februari 2010.







Oleh:

Listariono






UPT PERPUSTAKAAN

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Februari 2010
























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar